Showing posts with label suara konsumen. Show all posts
Showing posts with label suara konsumen. Show all posts

Friday, October 10, 2008


Kata teman-teman sekantor, sate kambing"" Moro Seneng"" ( Pak Slamet ) Semanding Banggle , terkenal enak. Mereka sering makan di sana. Ingin membuktikan, maka aku bersama temanku mencoba membuktikan di sana.

Cuaca Sore Selalunya hujan dan dingin, membuat terbayang enaknya makan sate kambing yang hangat. Kami pesan 1 porsi sate kambing dan 1 porsi tongseng. O ya, keistimewaan warung sate ini, ada suguhan Kopi jahe Panas yang Menemani pelanggan saat menanti hidangan.

Sambil menunggu, aku mengamati suasana warung ini. Nampaknya benar kata teman-temanku, ini warugn cukup kondang. Pembelinya mengalir deras. Harganya pun standar, 15 ribu/porsi ( satu porsi,terdiri dari 10 tusuk sate kambing,satu piring nasi,satu gelas minuman bisa kopi,es teh,extra jos,atau es jeruk.tinggal apa yang kita mau,pak slamet siap melayani. Kalau tambah hati,atau nasi,atau gule,kita tinggal ngontak hidangan siap di antar di depan kita.

Akhirnya saatnya tiba. Sate kambingku datang. Karena lapar, langsung kusikat tusuk-tusuk sate itu. Tiga tusuk sudah habis kusikat Bersama nasi tentunya.hmmm nggak aku teruskan ceritaku,, buktikan sendiri ajah yaaa,,,,,,,

Gurihnya Sate Moro Seneng

MEMASUKI Warung Sate Moro Seneng di Jalan Sukorame Semanding Banggle,aroma harum daging kambing yang dibakar langsung menyergap hidung. Perut yang sedari subuh belum terisi pun langsung keroncongan.

Rabu (24/9) sekitar pukul 17.00, beberapa pembeli sudah menempati kursi dan meja di Warung Moro Seneng. Mereka rupanya ingin berbuka puasa dengan menyantap sate di warung tersebut. ”Kalau datang mendekati magrib, saya khawatir kehabisan sate,” kata salah seorang di antara mereka.

Di depan meja mereka, tiga piring sate, tiga piring gulai, tiga piring nasi, setoples acar, dan beberapa gelas minuman sudah tersaji rapi. Aromanya menguap ke udara, tertangkap hidung, dan memicu keluarnya air liur. Sungguh ini godaan bagi orang yang sedang berpuasa.

Pada jam yang sama, sejumlah pembeli datang dan pergi mengambil pesanan sate atau gulai. Kebanyakan dari mereka membeli minimal dua porsi untuk dinikmati bersama keluarga di rumah. Ada pula yang membeli berporsi-porsi untuk sajian acara tertentu. ”Mereka memesan lewat telepon sejak pagi dan siang hari,” ujar Pak Slamet (57), Rabu sore.

Di luar bulan Ramadhan, warung sate yang buka mulai pukul 11.00 hingga 21.00 ini ramai pada jam makan siang. Pembeli harus rela antre sekadar untuk mencicipi satu porsi sate.

Sate Moro Seneng ( Pak Slamet ) memang istimewa. Daging kambing yang disate terasa lembut dan pas matangnya. Dari sepuluh tusuk sate (1 porsi) yang saya santap sore itu, tidak ada satu tusuk pun yang dagingnya hangus.

Rasa satenya pun pas, tidak terlalu manis, terlalu asin, atau terlalu gurih. Pembeli rasanya tidak perlu menambah garam atau kecap. Cukup menambah air jeruk limau dan sambal bagi yang suka pedas.

Sate itu terasa lebih nikmat jika dibubuhi bumbu kacang yang gurih dan kental. Pak Slamet sempat membocorkan sedikit rahasia dapurnya. ”Saya menggunakan kacang tanah, kacang mete, dan kemiri untuk bumbu sate. Makanya, bumbunya gurih,” jelas dia.

Cara menyembelih

Keistimewaan lain, sate Pak Slamet(Moro Seneng ) sama sekali tidak berbau kambing meski bahan bakunya 100 persen daging kambing. ”Ada pelanggan saya yang tadinya sama sekali tidak doyan daging kambing, tetapi setelah mencicipi sate kambing saya jadi ketagihan,” kata Pak Slamet.

Orang yang dimaksud itu namanya Udin, warga Kel.Kanigoro, Udin mengaku, awalnya dia mencicipi satu-dua tusuk sate. ”Sekarang kalau tidak makan satu porsi plus satu mangkuk gulai, rasanya kurang puas,” kata dia.

Bagaimana bau daging kambing bisa dihilangkan? Pak Slamet mengatakan, itu bergantung pada cara menyembelih. Namun, dia tidak bisa menjelaskan maksudnya lebih lanjut. ”Itu sulit dijelaskan, tetapi harus dipraktikan,” kata dia.

Selama berjualan sejak tahun 1983-an, Pak Slamet memilih menyembelih kambing sendiri.Dan Saya Memang Punya Andalan Ya itu Bapak Saya,beliau Kalau Menyembelih Kambing,weh Jagonya.nggak ada bau ”Saya tidak pernah membeli daging kambing dari orang lain,” ujarnya.

Dalam sehari, Pak Slamet menyembelih satu atau dua kambing. Jika banyak pesanan, Khususnya Pada Musim Hajatan Dan Banyak Yang Memesan untuk acara hajatan,weh sibuknya minta ampun ,dia bisa menyembelih 10 kambing. ”Makanya, ane mungkin orang yang paling berdosa sama kambing. Tiap hari kerjanya motong kambing melulu,” ujarnya sambil terkekeh.

Selain sate, Warung Pak Slamet juga menyediakan menu gulai dan sop kambing. Belakangan, Pak Slamet juga menyediakan ikan bakar dan ayam bakar. Kalau Anda beruntung, kadang Pak Slamet memberi bonus sayur asem Khas Manding yang alamak....

Harga makanan di warung itu tidak sampai menguras kantong. Seporsi sate dijual Rp 15.000, (sepiring nasi,10 tusuk sate,segelas,bisa kopi,es tah,atau es jeruk juga bisa minta extra jos). gulai atau sop Rp 5000, . Pak Slamet mengaku, jika dia memotong satu kambing, omzetnya sekitar Rp 1 juta per hari. Jika memotong, dua kambing omzetnya bisa mencapai Rp 2 juta hingga Rp 4 juta.

Sejak tahun 1983

Usaha warung sate tersebut dirintis Oleh Ayah Mertua Pak Slamet ( ayahnya Bu Ana ), tahun 1990. Warung sate itu sejak dulu berlokasi di Jalan Raya Kanigoro, tidak jauh dari POM Bensin. Warung itu kemudian di Pindah ke Daerah Utara Kanigoro,tepatnya di Dusun semanding pada tahun 1983-an. Dia lupa Bulan berapa persisnya.Alasannya,Pelanggan yang datang kebanyakan dari daerah utara ,jadi dari pada pelanggan yang kejauhan,warungnya saja yang pindah.

Pak Slamet sangat bersyukur warungnya bisa bertahan tahun tahunan. Dari warung inilah, dia bisa hidup tenang bersama istrinya dan membiayai hidup keluarga


Warung sate itu bernama ""Moro Seneng"". Jangan salah, bahwa Nama Adalah Sebuah Doa.. Awalnya saya mengira demikian,Oh ternyata sesuai dengan yang di namakan, Moro Seneng adalah nama Warung sate Yang Bertempat di kampung tepatnya di dusun Semanding di mana warung itu berada.

Warung Sate Moro Seneng saya jumpai di rute perjalanan dari Kec.Garum menuju Kanigoro, . Kira-kira 3 km sebelum masuk Garum, perlu hati-hati (namanya juga mau masuk Garum......). Di sana ada Tikungan jalan aspal kemudian ada jalan kecil yang cukup padat kalau siang hari karena selain jalannya relatif sempit meski beraspal, tapi lokasinya berdekatan dengan Rumah Bapak Kepala Dusun Semanding dan pusat kegiatan ekonomi masyarakat kampung Semanding.

Untuk menuju ke Warung Sate Moro Seneng ini, sesampai di Tikungan jalan aspal Semanding belok ke Kiri. di sana ada Sebuah spanduk warna putih bertuliskan cukup jelas memberitahu keberadaan ""Warung Sate Moro Seneng"". Di daerah sepanjang rute ini memang tidak banyak pilihan warung makan. Setidak-tidaknya saya sudah berusaha mencarinya sejak dari kawasan Kanigoro dan belum menemukan yang pas di hati, hingga akhirnya ketemu warung sate"" Moro Seneng"". Maka warung sate ""Moro Seneng""bisa jadi pilihan di antara yang tidak banyak itu.

Apa menu yang ditawarkan? Menu unggulannya adalah sate kambing,sop kikil kambing. Masih ada asesori tambahan yaitu krecek kambing. Krecek di sini bukan seperti krecek-nya orang Jogja yang disebut koyoran yang berbahan kulit sapi dan biasanya dimasak sambal goreng pelengkap gudeg atau sayur brongkos. Krecek kambing di sini adalah potongan-potongan jerohan kambing, seperti babat, usus, limpa dan kawan-kawannya, yang digoreng dan berasa gurih. Meski tersedia juga menu lainnya bagi yang tidak suka daging-dagingan.

Menyesuaikan dengan kondisi perut yang sudah mendendangkan irama macam-macam, maka malam itu saya memesan sate kambing, sopi kikil kambing, sedikit krecek kambing. Tidak terlalu lama untuk menunggu disajikan. Satenya disajikan dengan bumbu ganda, ada bumbu kecap dan ada bumbu kacang. Bumbu kacangnya sungguh sedap, agak manis dan agak pedas. Lebih sedap lagi ketika setusuk sate kambing panas dioleskan pada kedua bumbu yang dicampurkan. Wuih......, sepertinya tidak sabar ingin segera menelan semuanya......

Tapi namanya juga manusia, panjang ususnya tentu saja terbatas. Belum habis seporsi sate yang terdiri dari 10 tusuk, diselingi dengan mengerokoti kulit kikil kambing yang lunak dengan bumbu sopnya pas benar, masih diselingi dengan gigitan-gigitan krecek kambing, akhirnya ibarat lomba lari belum sampai garis finish sudah klepek-klepek......., kecepatan terpaksa dikurangi. Perut kemlakaren......., kekenyangan.

Paduan rasa dan bumbunya secara keseluruhan cukup memuaskan. Tapi, it's OK. Harganya tidak semahal di kota. Di kawasan ini harga makanan relatif murah, meski lokasinya jauh dari mana-mana.

***

Penjual satenya,Pak Slamet sudah sekitar empat tahunan berjualan sate di Semanding Ini. Kini warung satenya semakin ramai dikunjungi para pemakan (orang yang mencari makan di luar, maksudnya). Terutama sejak di dekat sana ada aktifitas Hiburan ala kampung yang biasa di adakan di lapangan dusun Semanding .Sepasang suami-istri penjual sate itu pun kini bisa tersenyum gembira, tiga ekor kambing siap disembelih setiap harinya guna memenuhi permintaan penggemar satenya.

Warung sate ini dari luar masih terlihat sangat sederhana dan terkesan ndeso, meja dan bangkunya juga seadanya, dan sebaiknya tidak dibayangkan seperti warung sejenis di kota. Namun saya yakin tidak lama lagi warung sate ini akan tampil beda, baik tampilan tempat maupun pelayanannya. Racikan bumbu sate dan sopnya cukuplah menjadi modal bagi kesuksesan warung ndeso ini .

Tuesday, October 7, 2008

Warung Sate ""Moro Seneng"" Semanding

Rumah Makan Sate Tempo Doeloe di Pandaan

Saya termasuk penggemar sate kambing plus gulai-nya. Kebetulan dalam program diet yang tengah saya jalani sekarang, diet berdasarkan golongan darah, daging kambing termasuk makanan yang wajib dikonsumsi...SIPPPP dahhhh..cocok bok!!!!!..he..he..

Beruntungnya lagi nih, saya gak perlu jauh-jauh 'tuk mencari makanan favorit ini CUKUP didesa-ku saja. Berlokasi di area yang padat ternyata tidak mengurangi niat para penggemar sate kambing untuk mampir ke rumah Warung Moro Seneng ini. Yup, berada di antara ruas jalur Kanigoro ke Garum,terkadang tidak terlihat. Hanya saja nilai historis dan kelezatannya-lah yang akhirnya membuat Warung Sate ini makin Tersohor hingga saat ini.

Konon, Warung Sate ini pun menjadi favorit orangtuaku saat masih honey moon dulu..cieeeeeee... Yup, memang gak banyak yang berubah Warung ini baik bentuk fisik bangunan hingga menu sajian setiap harinya. Interior ruangannya masih terkesan kuno seperti model kursi dan meja. Bahkan taplak meja dan beberapa aksesoris yang digunakan bisa dibilang peninggalan jaman dulu alias jadul. Dengan luas area makan yang gak terlalu besar cenderung kecil untuk ukuran Warung dengan 5 buah meja ( masing - masing 4 kursi ) memang rasa - rasanya ga bakal bisa menampug sanak keluarga saya bila take a lunch or dinner together..^_^ Yup, yang pasti berubah hanya satu..HARGA-nya bok he..he..

Dengan Rp 1.200,- per tusuknya dan ukuran yang lumayan besar rasanya gak ada kata MAHAL deh. Biasanya saya selalu memesan seporsi (isi 10 tusuk ) ,nasi satu piring,plus minuman kadang es jeruk ,kopi,es teh atau extra jos .total, Rp 15.000,- /porsinya. Ahhhh..gak heran deh saking uenakkkknya maka pesanan saya pun kerap habis dan selalu bungkus untuk dibawa pulang ha..ha..

kenyang dah

Warung sate itu bernama ""Moro Seneng"". Jangan salah, bahwa Nama Adalah Sebuah Doa.. Awalnya saya mengira demikian,Oh ternyata sesuai dengan yang di namakan, Moro Seneng adalah nama Warung sate Yang Bertempat di kampung tepatnya di dusun Semanding di mana warung itu berada.

Warung Sate Moro Seneng saya jumpai di rute perjalanan dari Kec.Garum menuju Kanigoro, . Kira-kira 3 km sebelum masuk Garum, perlu hati-hati (namanya juga mau masuk Garum......). Di sana ada Tikungan jalan aspal kemudian ada jalan kecil yang cukup padat kalau siang hari karena selain jalannya relatif sempit meski beraspal, tapi lokasinya berdekatan dengan Rumah Bapak Kepala Dusun Semanding dan pusat kegiatan ekonomi masyarakat kampung Semanding.

Untuk menuju ke Warung Sate Moro Seneng ini, sesampai di Tikungan jalan aspal Semanding belok ke Kiri. di sana ada Sebuah spanduk warna putih bertuliskan cukup jelas memberitahu keberadaan ""Warung Sate Moro Seneng"". Di daerah sepanjang rute ini memang tidak banyak pilihan warung makan. Setidak-tidaknya saya sudah berusaha mencarinya sejak dari kawasan Kanigoro dan belum menemukan yang pas di hati, hingga akhirnya ketemu warung sate"" Moro Seneng"". Maka warung sate ""Moro Seneng""bisa jadi pilihan di antara yang tidak banyak itu.

Apa menu yang ditawarkan? Menu unggulannya adalah sate kambing,sop kikil kambing. Masih ada asesori tambahan yaitu krecek kambing. Krecek di sini bukan seperti krecek-nya orang Jogja yang disebut koyoran yang berbahan kulit sapi dan biasanya dimasak sambal goreng pelengkap gudeg atau sayur brongkos. Krecek kambing di sini adalah potongan-potongan jerohan kambing, seperti babat, usus, limpa dan kawan-kawannya, yang digoreng dan berasa gurih. Meski tersedia juga menu lainnya bagi yang tidak suka daging-dagingan.

Menyesuaikan dengan kondisi perut yang sudah mendendangkan irama macam-macam, maka malam itu saya memesan sate kambing, sopi kikil kambing, sedikit krecek kambing. Tidak terlalu lama untuk menunggu disajikan. Satenya disajikan dengan bumbu ganda, ada bumbu kecap dan ada bumbu kacang. Bumbu kacangnya sungguh sedap, agak manis dan agak pedas. Lebih sedap lagi ketika setusuk sate kambing panas dioleskan pada kedua bumbu yang dicampurkan. Wuih......, sepertinya tidak sabar ingin segera menelan semuanya......

Tapi namanya juga manusia, panjang ususnya tentu saja terbatas. Belum habis seporsi sate yang terdiri dari 10 tusuk, diselingi dengan mengerokoti kulit kikil kambing yang lunak dengan bumbu sopnya pas benar, masih diselingi dengan gigitan-gigitan krecek kambing, akhirnya ibarat lomba lari belum sampai garis finish sudah klepek-klepek......., kecepatan terpaksa dikurangi. Perut kemlakaren......., kekenyangan.

Paduan rasa dan bumbunya secara keseluruhan cukup memuaskan. Tapi, it's OK. Harganya tidak semahal di kota. Di kawasan ini harga makanan relatif murah, meski lokasinya jauh dari mana-mana.

***

Penjual satenya,Pak Slamet sudah sekitar empat tahunan berjualan sate di Semanding Ini. Kini warung satenya semakin ramai dikunjungi para pemakan (orang yang mencari makan di luar, maksudnya). Terutama sejak di dekat sana ada aktifitas Hiburan ala kampung yang biasa di adakan di lapangan dusun Semanding .Sepasang suami-istri penjual sate itu pun kini bisa tersenyum gembira, tiga ekor kambing siap disembelih setiap harinya guna memenuhi permintaan penggemar satenya.

Warung sate ini dari luar masih terlihat sangat sederhana dan terkesan ndeso, meja dan bangkunya juga seadanya, dan sebaiknya tidak dibayangkan seperti warung sejenis di kota. Namun saya yakin tidak lama lagi warung sate ini akan tampil beda, baik tampilan tempat maupun pelayanannya. Racikan bumbu sate dan sopnya cukuplah menjadi modal bagi kesuksesan warung ndeso ini .

oh lezatnya sate pak slamet

Ulat di Sate Kambing Benhil Kata teman-teman sekantor, sate kambing"" Moro Seneng"" ( Pak Slamet ) Semanding Banggle , terkenal enak. Mereka sering makan di sana. Ingin membuktikan, maka aku bersama temanku mencoba membuktikan di sana.

Cuaca Sore Selalunya hujan dan dingin, membuat terbayang enaknya makan sate kambing yang hangat. Kami pesan 1 porsi sate kambing dan 1 porsi tongseng. O ya, keistimewaan warung sate ini, ada suguhan Kopi jahe Panas yang Menemani pelanggan saat menanti hidangan.

Sambil menunggu, aku mengamati suasana warung ini. Nampaknya benar kata teman-temanku, ini warugn cukup kondang. Pembelinya mengalir deras. Harganya pun standar, 15 ribu/porsi ( satu porsi,terdiri dari 10 tusuk sate kambing,satu piring nasi,satu gelas minuman bisa kopi,es teh,extra jos,atau es jeruk.tinggal apa yang kita mau,pak slamet siap melayani. Kalau tambah hati,atau nasi,atau gule,kita tinggal ngontak hidangan siap di antar di depan kita.

Akhirnya saatnya tiba. Sate kambingku datang. Karena lapar, langsung kusikat tusuk-tusuk sate itu. Tiga tusuk sudah habis kusikat Bersama nasi tentunya.hmmm nggak aku teruskan ceritaku,, buktikan sendiri ajah yaaa,,,,,,,